Rabu, 09 Mei 2012

Love and Lost


Terduduk. Aku yang kini hanya menatap kosong ke arah jendela, hanya bersandar di sebuah kursi. Diluar gelap, perlahan rintik gerimis membasahi jalanan depan rumah. Sejenak aku merenung. Ada yang hilang. Ya, ada yang hilang dalam benakku. Semua orang pasti pernah merasa kehilangan. Ini lah hidup, mendapatkan sesuatu yang berharga dan kemudian kehilangannya. Bukan sesuatu yang baru. Setiap insan pernah merasakannya. Kehilangan adalah hal yang wajar, tergantung bagaimana kita menyikapinya.

Cinta. Satu kata yang memang punya berjuta makna. Cinta datang dan pergi, dan kemudian hilang tak ada. Cinta adalah sesuatu absurd yang membuat orang bahagia dan seketika dapat membuat orang menjadi gusar.

Cinta itu milo hangat yang membuat nyaman yang meminumnya, manis, nikmat, dan jika lama tak di minum, akan menjadi hambar dan perlu sedikit adukan untuk membuatnya tampak manis kembali. Cinta itu...... ya banyak kata yang dapat menggambarkan seperti apa cinta.

Kehilangan. Tak banyak yang bisa aku gambarkan ketika mendengar kata kehilangan. rasanya memang seperti ada yang hilang dari diri ini. Terkadang menangis tersedu adalah cara terbaik untuk melawan rasa sakit ketika kehilangan. Bahkan adakalanya, menjadi bungkam adalah cara terbaik untuk melawan perihnya. Harus kuat!


Ya, cinta dan kehilangan. klise memang. Namun adakalanya kesiapan itu belum ada ketika kita menghadapi sebuah kehilangan. Tegar dan hadapi, hanya itu kuncinya.

Dan aku tersadar betapa Tuhanku amat menyayangiku, Ia memberikan aku nafas, menghirup dan menghembus. Bagaimana jika kita dapat menghirup namun tak bisa menghembus? Tak balance. Ketika kita merasa kehilangan, Tuhan pasti memberikan jalan keluarnya, layaknya menghirup dan jalan keluarnya adalah menghembus. Tak banyak yang dapat aku lakukan ketika kehilangan.
Ikhlas. Hanya itu. Dan percaya Tuhan pasti menyiapkan anugerah yang tersirat dari sebuah kehilangan. aku percaya Tuhan akan menggatikan rasa sakit itu dengan sebongkah kebahagiaan yang besar. Bismillah.



Amalia Santhika
9 Mei 2012.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar